Jumat, 10 Mei 2013

5292 kilometers to Seoul – Part I

Karena kisah perjalanan ini dimulai dengan kejadian yang owsem banget, jadi gue pos tersendiri yah.
Alkisah berawal dari Juli 2012 lalu di mana gue dibisikin sama @ReryRRR si anak Garuda Indonesia kalo Garuda lagi promo tiket murah terutama ke luar negeri. Sesuai dengan Sumpah Palapa antara gue dan si Rery ini bahwa 2013 kita harus mengunjungi si @andaekaputri yang kuliah di Seoul, capcuslah gue cek tiket dan *JENG JENG* dapetlah gue tiket Jakarta- Seoul dengan Garuda Indonesia seharga 3.7 juta saja! (Woohoo)
[Travel tips 1: Jangan takut cari tiket murah di maskapai premium, kadang-kadang harga promo mereka lebih murah jauh daripada budget airline. Tentunya tiket promo ini murah banget kalo dipesen setahun sebelumnya. Akan lebih baik kalo ada orang dalem yang suka ngebisikin kapan waktunya premium airline ini lagi buka promo.]
Tanggal 1 Mei 2013 kemarin, berangkatlah gue dan @Meldy86 menuju Seoul, sementara Rery si anak Garuda yang ngarepin tiket gretongan fasilitas kantor ternyata gak kebagian tiket hari itu dan harus berangkat besoknya.
Flight gue jam 23.20. Kebetulan hari itu kantor gue diliburin gara-gara demo buruh (basi wooo basiii!). Setelah tidur-tiduran sampai jam 17.00 disambung adegan panik karena belum final packing, mandi + keramas + blow dry rambut, dan ke minimart buat beli sambel botol (kudu ini kudu!), sementara jam 19.00 damri yang akan membawa gue ke bandara (dengan murah meriah) sudah waktunya cabut. Alhamdulillah Puji Tuhan, keburu juga akhirnya mengejar damri jam terakhir itu. Tapi sayangnya penumpangnya cuma gue sendirian!
Ngeri anjis. Mana malem ujan gede gitu, kalo si sopir sama kernetnya jahat udahlah gue gak akan selamat. Tapi yah again, Alhamdulillah Puji Tuhan, walaupun selama 2 jam perjalanan deg-degan mampus, ternyata Tuhan masih menjauhkan gue dari orang-orang jahat. Dan sampailah gue dengan selamat di bandara tepat jam 21.00.
Kemudian gue dan si Meldy check in ke counter Garuda. Dan di sini lah awal mula mimpi yang bahkan gue gak pernah mimpiin ini jadi kenyataan. Ternyata malam itu ada rombongan group tour yang memakan habis jatah kursi di kelas ekonomi. Padahal Flight Jakarta-Seoul ini udah menggunakan Airbus A330-200, yang muat 186 kursi ekonomi. Yauwis, karena Garuda mau dapet pahala dengan mengangkat derajat anak kampung Bekasi, akhirnya kami berdua akhirnya diupgrade ke kelas bisnis! ZUPER ZEKALI ZODARA-ZODARA!
Dengan perasaan deg-deg2an ala Euis, Ara, dan Agil (keluarga Cemara itu loh) mau diangkat anak sama konglomerat, kami berdua menuju lounge khusus buat para pemegang tiket kelas bisnis. Yes, Garuda Indonesia Executive Lounge yang berisikan sofa-sofa besar yang nyaman, makanan enak, toilet yang mewah, dan bahkan dilengkapin shower room lengkap dengan amenities ala hotel bintang. Sebelumnya gue bahkan gak pernah tau bahwa tempat ini beneran ada.
the holy Garuda Indonesia Executive Lounge

Jam 22.50 gue cabut buat boarding. Dan beneran aja dong, boarding lounge penuh sama peserta group tour yang ternyata berasal dari Millionaire Club Indonesia dengan cabin koper orange dari Panorama Travel. Tapi ya, karena gue pemegang tiket dewa, gue dipersilahkan masuk pesawat duluan dengan cantiknya.
Sempat ada scene sih di mana gue yang lagi cari tiket buat ditunjukkin di pintu masuk pesawat tiba-tiba bapak petugas bandaranya bilang ke gue, “Kelas ekonomi lewat sini, Mba.” Sembarangan! Kamu kira saya siapa, hah? #eaaa #kebawasongong #emangmukakampung
Setelah gue tunjukkin tiket dewa gue sambil senyum se-humble mungkin, masuklah gue ke cabin kelas bisnis. Yang kursinya gede-gede terus warnanya merah itu loh. Masak gak tau sih? Duh, jelata. #eaaa #dijumrohmassal
Setelah terharu berat abis ngerasain kursi yang bisa ditidurin sampai posisi 180 derajat itu, gue beneran menitikan air mata begitu melihat isi sleeping kit yang dibagiin khusus buat penumpang kelas bisnis. Tas kecil coklat dengan retsleting kecil berbentuk logo Aigner, yang selain berisi penutup mata, kaos kaki, sisir, ear plug, sikat gigi dan pasta gigi, ternyata juga berisikan body lotion, lip balm, dan sebotol kecil parfum Aigner. Mama, aku dapet kado dari Sinterklas! :’)
Sleeping kit buat kelas bisnis, disponsori oleh Etienne Aigner

Oke, karena gue skip snack berupa pie yang disajikan dengan cantik di piring berwarna putih karena lebih memilih tidur, cerita kita fast forward ke paginya. Jam 5 pagi waktu Jakarta atau 7 pagi waktu Seoul, gue dibangunin karena itu adalah saatnya penumpang dikasih sarapan. Jadi begini kira-kira sarapan penumpang kelas bisnis:
1. Makanan pembuka berupa sepiring buah-buahan, roti hangat (yang boleh dipilih sendiri jenisnya) beserta butter, selai stroberi, dan madu yang diimpor dari berbagai negara, serta segelas yoghurt (yang gue pilih instead of sereal).
2. Makanan pembuka (yang saat itu gue pilih) berupa western breakfast terdiri dari omelet, bayam, sosis, dan hash brown.
3. Penutup berupa kopi atau teh.
4. Kebahagian. #ahzeeeq
Gak kerasa, tepat pukul 8.30 waktu Seoul, mendaratlah dengan selamat pesawat yang gue tumpangi ini di Incheon Airport. Anyway, Incheon Airport di Seoul ini adalah yang bandara terbaik di dunia tahun 2012, sayangnya tahun ini turun menjadi no. 2 setelah kalah dari Changi. Katanya sih, gara-gara Changi sampai punya ice skating rink berlatar belakang bangunan khas Moskow. Gue sih belum pernah liat, di mana sih?
Karena gue akan melanjutkan perjalanan ke hotel dengan subway, lanjutlah gue dari Arrival Gate di lt. 1 menuju lt. B1 tempat airport railroad berada. Di sini ada 2 pilihan, ada airport express (line orange) dan subway biasa (line biru). Bedanya, airport express ini adalah kereta express langsung dari bandara tanpa berhenti ke tempat tujuan, sementara yang biasa kan suka berhenti di beberapa stasiun kan. Nah, sebenarnya yang bakal gue naikin ini juga terhitung express karena keretanya gak berhenti sesering subway biasa, tapi cuma di tempat tertentu, tapi kereta gue tetep ada di line biru. Jadi cari tahu tempat tujuan dan kereta apa yang harus dinaiki, jangan sampai salah line, Seoul gede banget, jauh dari ujung ke ujungnya, jadi jangan sampai nyasar yah. 
mejeng dulu di B1 airport railroadnya, futuristik kece gitu yah
Sebelum naik subway, jangan lupa beli kartu passnya. Kalo di Singapur kita pake kartu Ez-link, di sini namanya T-money. Konsepnya sama, beli dan isi saldo kartunya, dan saldo akan berkurang setiap kita menscan kartu di awal perjalanan. Nah kartu T-money ini bisa dibeli dan ditop-up saldonya di convenience strore terdekat. Harga kartunya 2500 KRW, dan gak bisa direfund kartu dan isinya, so, be wise dan itung yang bener biar gak nyisain banyak saldo di kartunya pas pulang nanti. 
si kartu T-money, cari yang gambarnya lucu yah, lumayan buat oleh2 :D
Anyway, kartu T-money ini, selain subway, bisa digunakan juga buat bus (biasa maupun aiport bus), dan taksi-taksi tertentu. Hampir semua taksi di kota Seoul sudah bisa dibayar pakai T-money ini, tapi taksi-taksi yang di luar kota seperti daerah Nami-seom belum yah.
Owrait, kartu T-money sudah terisi, mari kita mulai perjalanan di Seoul!
(Bersambung ke 5292 kilometers to Seoul – Part I)

Minggu, 14 April 2013

900 kilometers to Singapore #7

Libur Paskah tanggal 29 Maret - 1 April 2013 kemarin menjadi ketujuh kalinya gue traveling ke Singapura. Tentu saja pastinya ada agenda penting yang membuat gue lagi-lagi ke Singapura. Yap, highlightnya adalah konser The Script, yang tahun ini gak datang ke Indonesia. Terus, supaya perjalanan kali ini tetap memenuhi kaidah traveling, yaitu mengunjungi tempat wisata, agenda penting lainnya adalah Legoland. Oke, kita bahas satu-satu:

1. The Script LIVE in Singapore #3 Tour at Singapore Indoor Stadium
Agenda pertama ini adalah alasan utama gue, dan travelmate kali ini, si @nurulramadhani, datang jauh-jauh ke Singapura. Berawal dari tindakan impulsif dari 2 gadis yang baru aja patah hati (lagi!) dan kebetulan hymne patah hatinya adalah mahakarya (halah!) band Irish tersebut. Nah, begitu tahu The Script gak akan mampir ke Indonesia, maka berangkatlah gue dan enur berdua ke Singapura, kota lokasi konser terdekat dari Jakarta, yang mana kebetulan juga adalah kota sejuta kenangan (ahzeeek!) buat gue juga si enur ini (hiks!).

Karena ini adalah pertama kalinya gue nonton konser di Singapura, awalnya gue berasumsi kalau nonton konser di kota super teratur ini bakalan aman tentram gitu. Ternyata (JENG JENG) ...ababil Singapura lebih ganas daripada ababil Indonesia dah! Okelah, kalangan mba-mba dan ibuk-ibuk di Indo memang gahar-gahar kalau soal nonton konser artis favoritnya (pengalamanan hidup dan mati mengerikan pas konser NKOTBSB Juni 2012 lalu di Jakarta), tapi ababil Singapura ternyata lebih barbarita acara dorong-mendorongnya. Udah mah badan mereka tinggi-tinggi dan gizinya kayaknya bagus banget, entah apa cemilannya (batere energizer mungkin), energi dan staminanya dahsyat abis. Mereka kuat banget loh loncat-loncatan sepanjang konser tanpa jeda, edan!

Konser The Scriptnya sendiri cukup berbeda dengan waktu di Jakarta November 2011 lalu. Di sini, personil The Script jauh lebih doyan ngobrol sama penontonnya. Yah entah joke, cerita, bahkan yang paling the best-nya adalah pas Danny nyuruh penonton buat drunk-dial mantan masing-masing. Gue kirain dia cuma bercanda doang yah, eh ternyata pas ada penonton yang telponnya diangkat mantannya, hp nya langsung diambil Danny ke atas panggung. Si Danny minta penonton bersorak biar kedengeran sama si cewe (mantan si penonton empunya hp) super beruntung gila bernama Elaine itu (damn you, girl!) dan mulai menyanyikan 'Nothing' dalam keadaan hp masih nyambung ke si mbak Elaine itu. Gue bengong teranying-anying, tapi kemudian ikut pecah gegalauan berjamaah di lagu itu. Bok, mars patah hati gue noh.

Mas Danny ganteng ajeee!


Sejujurnya, gue sempet bete sih di awal-awal konser, terutama karena band pembukanya basi banget (band lokal Singapore gitu, entah gue lupa namanya), terus dilanjutin dorong-dorongan dan gencet-gencetan. Puncaknya, sempet bete banget pas hymne patah hati gue, 'Breakeven', dinyanyiin, et dah penontonnya malah loncat jejingkrakan. Bok, itu kan harusnya mengharu biru, ah! Tapi akhirnya makin lama, gue mencoba buat ikutan hebohnya ababil sana, dan ternyata seru! Tambah lagi di lagu encore, Danny keliling arena konser buat nyalamin pentonton sambil nyanyi Hall of Fame, lagu yang gak ada di setlist tour ini. Gue percaya sih, karena kehebohan penonton di sana lah yang bikin Danny cs ngasih 2 lagu tambahan malam itu.
It was a blast, indeed. Gak nyesel lah jauh-jauh ngejar The Script buat gegalauan ke Singapura!

2. Legoland - Johor Baru, Malaysia
Hari berikutnya, gue, si enur, dan tuan rumah yang lagi kuliah S2 di NTU, @autieminati, berangkat ke Legoland. Berdasarkan riset kecil-kecilan si autie, ternyata daripada pergi ngeteng sendiri, lebih murahan beli voucher tour dari travel di Singapura. Nah, setelah cari-cari yang optimal, akhirnya sepakat buat beli paket bus PP Lavender-Legoland dan tiket masuk Legoland seharga 60 SGD. Harganya hampir sama dengan beli tiket masuk Legoland sendiri yang harganya 140 RM (sekitar 57 SGD). Ohya, travel yang gue pakai kemarin namanya Superior Tour, fyi aja sih, siapa tau ada yang butuh, hehehe.

Legoland ini terletak di Johor Baru, sekitar 30 menit dari perbatasan Singapura-Malaysia, dan baru dibuka September 2012 kemarin. Untuk ke sini dari Singapura harus melewati imigrasi Singapura dan Malaysia, jadi harus turun-naik bus gitu selama perjalanan. Total waktu perjalanannya sendiri termasuk keluar masuk imigrasi adalah 2 jam. Nah, jangan kaget pas sampai di Johor Baru disambut lahan kosong maha luas dan tandus layaknya di pinggir kota yah. Iya, di sini lah Legoland dan theme park tetangganya - Hello Kitty Park - berdiri. Dan satu hal yang pasti dijumpai di sana: terik mataharinya tingkat dewa Amon Ra lagi PMS!

Kegiatan wajib: mejeng dulu di gerbang masuk (ki-ka: gue, enur, autie)

Nah, seperti halnya theme park lainnya, Legoland ini terdiri dari beberapa area degan tema berbeda. Temanya agak mirip USS sih, lengkapnya liat aja dah di situs resminya. Tipikal theme park juga, mainan di sini gak berapa banyak, dan sayangnya memang ditujukan buat anak-anak umur 12 tahun ke bawah. Kalau menurut gue, secara keseluruhan Legoland gak berapa menarik sih, apalagi dibanding theme park lainnya yah. Sebagai contoh, theater 4D Legoland ini kurang banget dibandingkan dengan Disneyland Hongkong, Shrek 4D nya Universal Studio Singapore, APALAGI TRANSFORMERNYA USS! (ih santai dong ngomongnya!). Theater 4D di sini efek 4D nya cuma dari percikan air dan hembusan angin doang, belom lagi filmnya film bisu alias gak ada suaranya. Soal live show nya lebih memiriskan hati, yamosok cuma acara sulap 17an yang tukang sulapnya juga ngomongnya datar sedatar dadanya Keira Knightley. Iya sih, patung, dekorasi, dan taman miniatur dari Lego nya keren banget, tapi yah namanya Lego, harus dilihat dari deket juga sementara kalau difoto efek luar biasanya jadi gak terlalu berasa lagi. :|

Mejeng di depan miniatur Tanah Lot Bali

Secara keseluruhan, gue bertiga malah lebih sering nongkrong di restoran buat minum soda dan ribena dan menikmati semilir AC, abisan sih di luar ruangan panasnya kayak geng motor aing bandung, ngajak ribut banget! Ah sudahlah, kayaknya cukup sekali seumur idup aja ke Legoland yah, kakaaak...

3. Changi City Point
Kalau udah sampai Singapura tapi gak belanja itu dosa sih hukumnya. Gue sendiri bukan tipe yang maniak belanja, tapi harus mengakui juga kalau di Singapura ini banyak label yang belum masuk Indo, dan kalaupun udah masuk juga biasanya koleksinya lebih lengkap di sini atau DISKONnya lebih mantap di sini. Nah, Changi City Point, mall kaum commuternya Singapura yang letaknya yang di depan MRT Expo, 1 stasiun dri MRT Changi, ini isinya barang-barang diskonan parah semua! Hasil paling mengharukan yang gue dapetin di sini adalah sepasang ankle boots dari Croocs yang diskon dari harganya 160 SGD jadi cuma 60 SGD dan longjohn dari Cold Wear yang harganya cuma 10 SGD! Mau nangis gak sih saking senengnya?

Terus, di sini juga ada store Value. Itu tuh toko yang jual daily products dengan harga murah. Nah, yang tambah bikin senang, di Value ini jual macam-macam coklat yang lucu-lucu (dan menggairahkan!) dengan harga murah banget masyouloh. Dari mulai Toblerone, Kitkat dan teman-temannya, Ritz, sampai si coklat bulet-bulet Malteser dari UK yang harganya cuma 1 SGD! Gak perlu lagi lah pokoknya jauh-jauh ke Mustafa buat beli coklat, tinggal cari aja mall yg ada Value-nya yah.