Karena kisah perjalanan ini dimulai dengan kejadian yang owsem banget, jadi gue pos tersendiri yah.
Alkisah berawal dari Juli 2012 lalu di mana gue dibisikin sama @ReryRRR si anak Garuda Indonesia kalo Garuda lagi promo tiket murah terutama ke luar negeri. Sesuai dengan Sumpah Palapa antara gue dan si Rery ini bahwa 2013 kita harus mengunjungi si @andaekaputri yang kuliah di Seoul, capcuslah gue cek tiket dan *JENG JENG* dapetlah gue tiket Jakarta- Seoul dengan Garuda Indonesia seharga 3.7 juta saja! (Woohoo)
[Travel tips 1: Jangan takut cari tiket murah di maskapai premium, kadang-kadang harga promo mereka lebih murah jauh daripada budget airline. Tentunya tiket promo ini murah banget kalo dipesen setahun sebelumnya. Akan lebih baik kalo ada orang dalem yang suka ngebisikin kapan waktunya premium airline ini lagi buka promo.]
Tanggal 1 Mei 2013 kemarin, berangkatlah gue dan @Meldy86 menuju Seoul, sementara Rery si anak Garuda yang ngarepin tiket gretongan fasilitas kantor ternyata gak kebagian tiket hari itu dan harus berangkat besoknya.
Flight gue jam 23.20. Kebetulan hari itu kantor gue diliburin gara-gara demo buruh (basi wooo basiii!). Setelah tidur-tiduran sampai jam 17.00 disambung adegan panik karena belum final packing, mandi + keramas + blow dry rambut, dan ke minimart buat beli sambel botol (kudu ini kudu!), sementara jam 19.00 damri yang akan membawa gue ke bandara (dengan murah meriah) sudah waktunya cabut. Alhamdulillah Puji Tuhan, keburu juga akhirnya mengejar damri jam terakhir itu. Tapi sayangnya penumpangnya cuma gue sendirian!
Ngeri anjis. Mana malem ujan gede gitu, kalo si sopir sama kernetnya jahat udahlah gue gak akan selamat. Tapi yah again, Alhamdulillah Puji Tuhan, walaupun selama 2 jam perjalanan deg-degan mampus, ternyata Tuhan masih menjauhkan gue dari orang-orang jahat. Dan sampailah gue dengan selamat di bandara tepat jam 21.00.
Kemudian gue dan si Meldy check in ke counter Garuda. Dan di sini lah awal mula mimpi yang bahkan gue gak pernah mimpiin ini jadi kenyataan. Ternyata malam itu ada rombongan group tour yang memakan habis jatah kursi di kelas ekonomi. Padahal Flight Jakarta-Seoul ini udah menggunakan Airbus A330-200, yang muat 186 kursi ekonomi. Yauwis, karena Garuda mau dapet pahala dengan mengangkat derajat anak kampung Bekasi, akhirnya kami berdua akhirnya diupgrade ke kelas bisnis! ZUPER ZEKALI ZODARA-ZODARA!
Dengan perasaan deg-deg2an ala Euis, Ara, dan Agil (keluarga Cemara itu loh) mau diangkat anak sama konglomerat, kami berdua menuju lounge khusus buat para pemegang tiket kelas bisnis. Yes, Garuda Indonesia Executive Lounge yang berisikan sofa-sofa besar yang nyaman, makanan enak, toilet yang mewah, dan bahkan dilengkapin shower room lengkap dengan amenities ala hotel bintang. Sebelumnya gue bahkan gak pernah tau bahwa tempat ini beneran ada.
![]() |
| the holy Garuda Indonesia Executive Lounge |
Jam 22.50 gue cabut buat boarding. Dan beneran aja dong, boarding lounge penuh sama peserta group tour yang ternyata berasal dari Millionaire Club Indonesia dengan cabin koper orange dari Panorama Travel. Tapi ya, karena gue pemegang tiket dewa, gue dipersilahkan masuk pesawat duluan dengan cantiknya.
Sempat ada scene sih di mana gue yang lagi cari tiket buat ditunjukkin di pintu masuk pesawat tiba-tiba bapak petugas bandaranya bilang ke gue, “Kelas ekonomi lewat sini, Mba.” Sembarangan! Kamu kira saya siapa, hah? #eaaa #kebawasongong #emangmukakampung
Setelah gue tunjukkin tiket dewa gue sambil senyum se-humble mungkin, masuklah gue ke cabin kelas bisnis. Yang kursinya gede-gede terus warnanya merah itu loh. Masak gak tau sih? Duh, jelata. #eaaa #dijumrohmassal
Setelah terharu berat abis ngerasain kursi yang bisa ditidurin sampai posisi 180 derajat itu, gue beneran menitikan air mata begitu melihat isi sleeping kit yang dibagiin khusus buat penumpang kelas bisnis. Tas kecil coklat dengan retsleting kecil berbentuk logo Aigner, yang selain berisi penutup mata, kaos kaki, sisir, ear plug, sikat gigi dan pasta gigi, ternyata juga berisikan body lotion, lip balm, dan sebotol kecil parfum Aigner. Mama, aku dapet kado dari Sinterklas! :’)
![]() |
| Sleeping kit buat kelas bisnis, disponsori oleh Etienne Aigner |
Oke, karena gue skip snack berupa pie yang disajikan dengan cantik di piring berwarna putih karena lebih memilih tidur, cerita kita fast forward ke paginya. Jam 5 pagi waktu Jakarta atau 7 pagi waktu Seoul, gue dibangunin karena itu adalah saatnya penumpang dikasih sarapan. Jadi begini kira-kira sarapan penumpang kelas bisnis:
1. Makanan pembuka berupa sepiring buah-buahan, roti hangat (yang boleh dipilih sendiri jenisnya) beserta butter, selai stroberi, dan madu yang diimpor dari berbagai negara, serta segelas yoghurt (yang gue pilih instead of sereal).
2. Makanan pembuka (yang saat itu gue pilih) berupa western breakfast terdiri dari omelet, bayam, sosis, dan hash brown.
3. Penutup berupa kopi atau teh.
4. Kebahagian. #ahzeeeq
Gak kerasa, tepat pukul 8.30 waktu Seoul, mendaratlah dengan selamat pesawat yang gue tumpangi ini di Incheon Airport. Anyway, Incheon Airport di Seoul ini adalah yang bandara terbaik di dunia tahun 2012, sayangnya tahun ini turun menjadi no. 2 setelah kalah dari Changi. Katanya sih, gara-gara Changi sampai punya ice skating rink berlatar belakang bangunan khas Moskow. Gue sih belum pernah liat, di mana sih?
Karena gue akan melanjutkan perjalanan ke hotel dengan subway, lanjutlah gue dari Arrival Gate di lt. 1 menuju lt. B1 tempat airport railroad berada. Di sini ada 2 pilihan, ada airport express (line orange) dan subway biasa (line biru). Bedanya, airport express ini adalah kereta express langsung dari bandara tanpa berhenti ke tempat tujuan, sementara yang biasa kan suka berhenti di beberapa stasiun kan. Nah, sebenarnya yang bakal gue naikin ini juga terhitung express karena keretanya gak berhenti sesering subway biasa, tapi cuma di tempat tertentu, tapi kereta gue tetep ada di line biru. Jadi cari tahu tempat tujuan dan kereta apa yang harus dinaiki, jangan sampai salah line, Seoul gede banget, jauh dari ujung ke ujungnya, jadi jangan sampai nyasar yah.
Sebelum naik subway, jangan lupa beli kartu passnya. Kalo di Singapur kita pake kartu Ez-link, di sini namanya T-money. Konsepnya sama, beli dan isi saldo kartunya, dan saldo akan berkurang setiap kita menscan kartu di awal perjalanan. Nah kartu T-money ini bisa dibeli dan ditop-up saldonya di convenience strore terdekat. Harga kartunya 2500 KRW, dan gak bisa direfund kartu dan isinya, so, be wise dan itung yang bener biar gak nyisain banyak saldo di kartunya pas pulang nanti.
![]() |
| si kartu T-money, cari yang gambarnya lucu yah, lumayan buat oleh2 :D |
Anyway, kartu T-money ini, selain subway, bisa digunakan juga buat bus (biasa maupun aiport bus), dan taksi-taksi tertentu. Hampir semua taksi di kota Seoul sudah bisa dibayar pakai T-money ini, tapi taksi-taksi yang di luar kota seperti daerah Nami-seom belum yah.
Owrait, kartu T-money sudah terisi, mari kita mulai perjalanan di Seoul!
(Bersambung ke 5292 kilometers to Seoul – Part I)






